MANGKUTANA – Siswa-siswi UPT SMP Negeri 1 Mangkutana berhasil mengharumkan nama sekolah dengan meraih dua piala sekaligus dalam ajang Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) tingkat Kabupaten Luwu Timur yang digelar baru-baru ini.
Dalam kompetisi yang bertujuan untuk melestarikan dan merevitalisasi bahasa daerah tersebut, UPT SMPN 1 Mangkutana sukses meraih prestasi pada kategori yang menggunakan Bahasa Toraja.
Prestasi gemilang ini dipersembahkan oleh:
Renvailen (Kelas 7B), yang meraih Juara 2 pada cabang Lomba Mendongeng Bahasa Toraja.
Ibrani (Kelas 9B), yang meraih Juara 3 pada cabang Lomba Komedi Tunggal (Stand-up Comedy) Bahasa Toraja.

Pada festival tahun ini, UPT SMPN 1 Mangkutana mengirimkan delegasi untuk tiga cabang lomba. Selain dua kategori yang berhasil dimenangkan, satu peserta lainnya, Aira (Kelas 7A), telah berjuang mewakili sekolah dalam kategori Pidato Bahasa Bugis.
Meski Aira belum berhasil naik podium juara, partisipasinya mendapat apresiasi penuh dari pihak sekolah sebagai bagian dari proses pembelajaran yang berharga.
Apresiasi Pimpinan dan Pembina
Keberhasilan ini disambut dengan rasa syukur dan bangga oleh seluruh warga sekolah. Kepala UPT SMP Negeri 1 Mangkutana memberikan apresiasi tinggi terhadap pencapaian para siswa.

“Kami sangat bangga atas pencapaian Renvailen dan Ibrani. Ini adalah bukti nyata bahwa siswa-siswi kami memiliki bakat luar biasa dan komitmen kuat untuk melestarikan budaya lokal, khususnya bahasa Toraja,” ujar Kepala Sekolah.
Beliau juga menambahkan, “Kemenangan ini tentu tidak lepas dari bimbingan intensif para guru pembina. Kami juga memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Aira yang telah berani tampil dan berjuang maksimal di kategori Pidato Bahasa Bugis. Semua peserta adalah juara bagi kami.”
Sementara itu, salah seorang guru pembina mengungkapkan kegembiraannya atas kerja keras para siswa.
“Proses latihannya sangat kami nikmati. Anak-anak ini, Renvailen dan Ibrani, menunjukkan dedikasi tinggi saat berlatih mendongeng dan komedi tunggal dalam bahasa Toraja, yang tentunya memiliki tantangan tersendiri,” tutur guru pembina tersebut.
“Renvailen mampu membawakan cerita dengan penjiwaan yang kuat, dan Ibrani berhasil menguasai panggung serta mengundang tawa juri. Ini adalah hasil kerja keras mereka, dan kami berharap prestasi ini dapat memotivasi siswa-siswi lain untuk lebih mencintai bahasa ibu mereka,” tutupnya.

Beri Komentar